12
- January
2014
Posted By : Brawijaya Mengajar
Sekelumit Perjuanganku
SEKELUMIT PERJUANGANKU
by:
Veggy Putri Astuti
The University of Brawijaya
(pemenang 10 Besar Lomba Cerpen Pena Brawijaya)
Aku berdiri disini. Ya aku tepat berada di depan kantorku sekarang. Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk AmerikaSerikat. Aku masih tak menyadari betapa aku telah berhasil berdiri dan menjadi salah satu staf terpercaya di kantorini. Menjalan imimpi yang kurang kai bersama bulan dan bintang saat umurku 14 tahun.
Masih hangat dalam anganku. Betapa dulu hidupku jauh bahkan hanya menjadi mimpi seorang anak ingusan yang seakan tak tau diri dan dengan beraninya bermimpi begitu tinggi.
Are you sleeping are you sleeping brother john? Brother John? morning bell was ringing morning bell was ringing, Ding dang dung ding dang dung. Semuanya tertawa, semuanya riang gembira, semuanya bertepuk tangan. Aku masih ingat lagu itu. Walaupun tak dapatku baca tulisan di papan hitam dengan kapur tuliswarna – warna itu, tapi kucondongkan telingaku jauh kedalam jendela kelas itu untuk mendengarkan irama dan liriknya, dan sekali lagi walapun takjelas pula penyebutan anak- anak kecil dikelas itu.  Ya… aku tak di dalam kelas. Aku tak berada di ruangan yang sama dengan mereka, tak merasakan kerasnya meja dan nyamannya kursi yang mereka duduki. Aku berada di luar ruangan, tepatnya bersandar di jendela kelas, di koridor jalan menuju kantin kecil yang ada di pojokan sana. Tak merasakan serunya berseragam, tak pula merasaka nnyamannya pijakan kaki dengan sepatu bagus. Ahhh..aku tak berharap memakai itu semua, yang kuinginkan hanyalah belajar dan aku dapat membaca tulisan- tulisan itu.
Perkenal kan namaku Abdul Muis. Aku salah satu pemimpi di dunia ini. Masih segar dalam ingatanku. Bagaimana dulu aku berharap sangat besar agar dapat berada disini, di Negara yang aku tak sangka akan kukunjungi, salah satunya.
Umurku 5 tahunsaatitu…. Sudahsepantasnyaakumasuksekolah. Belajar, mengenyampendidikan, danmerasakanatmosfermenjadilebahbarudalamkoloniuntukdisiapkanmenjadiprajuritpenghisapmanisdanpahitnyailmuduniaini. Akutidakberasaldarikeluarga yang kaya , atausekedarberkecukupan. Ayah ku, diaadalahtukangbecakdanibukuburuhcucibaju orang – orang yang tinggal di dalamkampungdekatjembatan. Jembatan yang menaungidanmenghalangipandangankuuntuksekedarmelihatlangitbirupagidangemerlapbintangmalam. Umurkumungkinkecil, namunsemangatuntuksekolahkujauhlebihbesar. Akumenangissetiaphari. Berharapuntukdisekolahkan, layaknyaanak- anakdikampungdekatjembatan. Namun, ayah danibukutakpunyacukupuanguntuksekedarmendaftarkanku. Selama 3 tahunsetiappagiakupergikesebuahsekolah yang berada di tengahkampungitu. Tiappagi pula kugantungkanasabesarsangattinggidan rasa iri yang sangatterhadapmereka yang adadidalamruangankelasitu. Takterasausiakutelahberanjak 8 tahun. Akusudahbisamembaca, pertambahan, perkalian, pengurangandansebagainya. Setiaphariakumendengarkandariluarkelas, berdiriseolah-olahmencarisesuatu di koridorkelas. Tiaphari pula akumengenakanpakaianterbaikkuwalaupunhanya 3 potong. Sepulangsekolah, secepatnyaakucuci agar lusanyadapatkukenakankembali.
Ayahku yang melihatkegigihanku pun merasaibaPadasuatuhari, pagipagisekaiIameninggalkanrumah. Iadiam-diammenjualbecaknya, pergikesekolahmendaftarkankudikelassatu( walaupunumurkusudah 8 tahunsaatitu ), lalukepasaruntukmembeliseragambekasuntukkupakai, bukubaru, dansepatubekas yang masihterlihatbagus. SepulanganyaituIalantasmencariku. Namun, takIadapatiku. Akumasihdisekolah. Iamengambillangkahseribuuntuksegerasampaidisekolah.Perasaankutaknyamansaatitu, lalukuputuskanuntukkembalikerumah. Ditengahperjalanan, sebelumsampaijembatan, akumelihatkerumunan orang yang tak tau sedangapa. Lalu, kuhampiridenganpenuh rasa penasaran. Ada bercakdarahdisana, akusemakinpenasaran, kutembuskerumunan orang- orang itu. Laluapa yang kudapati, dua orang tergeletakdisana. Berlumurandarahdengankeduatanganmemegangtasplastik, memeluknyadengansangaterat. Ku dekatiduatubuh yang terbaringdantakbergerakitu. Seketikaseribu ton palurasanyamemukulhatikubegitukerasnya. Air matakuseakanberlomba – lombainginjatuhdannafaskusalingberkejaranuntukmengeluarkansuarateriakan yang sangatkeras. Ya… merekaadalah ayah danibuku. Merekaberduamemegangalat – alatkeperluansekolahuntukku. Ibukujugamelakukanhal yang samasepertiayahku, ternyatadiadiam-diammenyimpanuanghasilmencuciuntukmembelibarang- barangkeperluanku. Sejaksaatituakuresmisebatangkara. Namun, telahkusematkansesumbarjanji, takkansia-siapengorbanankedua orang tuaku.
Makadisinilahakuberdirisekarang. Ku jalanimasa-masasekolahlanjutanpertamadanmenengahatasbahkankuliahdenganbeasiswa. Taklupa pula menjadi yang terbaikdidalamkelas. Dan akuberhasil. Dengankekuatatanmimpidandoaakumenjadisalhsatululusanterbaik di kampusterbaiknegeriini, melanjutkanpascasarjanadanberkelilingkeberbagainegerasertabekerja di luarnegeri.

Leave a Reply