12
- January
2014
Posted By : Brawijaya Mengajar
Ini Baktiku, BU

Ini Baktiku, Bu

Oleh : Muchtar Prawira Sholikhin

The University of Brawijaya

(Pemenang 10 Besar Lomba Cerpen Pena Brawijaya)

Setiap siang biasanya aku dijemput bapak dari sekolah. Tapi berhubung ada kerjaan tambahan di kantor disuruhnya aku pulang sendiri. Aku sih tak masalah. Kesempatan emas untuk main petak umpet lebih lama dan jajan macam-macam. Kalau bapak sibuk biasanya aku dikasih uang saku lebih buat makan siang sekalian. Sehabis lelah bermain aku segera pulang, acara TV favoritku sudah waktunya mulai.

Sampai rumah kuambil air sambil nonton acara Bolang, tak ada lagi makan siang karena memang rumah ini kosong sejak pagi. Oya, aku punya handphone baru pemberian bapak sebagai ganti yang dulu rusak secara misterius.

“Nah nanti kalau Bapak sering lembur bisa pakai ini,” tegas beliau sambil memberikan alat canggih itu.

Waktu kukeluarkan dari lemari nampak di depanku jelas handphone-ku, tapi penuh sayatan pisau di sana-sini. Ini kedua kali rusak tanpa kutahu sebabnya. Aku takut, Bapak nanti marah.

***

“Pak, hape kulo rusak maleh Pak,” terangku selepas magrib.

“Ya Allah, kok iso rusak meneh le?”

Bapak sebenarnya sudah tahu perbuatan siapa ini. Seperti tingkah-tingkahnya dulu. Mulai dari pergi seenaknya, menelantarkan anak karena bukan anak kandung, juga bagai ratu meminta uang kepada bapak yang tak jelas digunakan untuk apa.

***

“Ibu, Rizky kangen ibu…”

Bu, Rizky capek bu belajar sendirian. Nonton TV sendirian. Dan sekarang harus ketakutan di rumah sendiri.

Ingat dulu ibu sering sangat sabar ketika aku terus-terusan nonton TV tanpa mau belajar, padahal esok ada ujian. Tapi ibu malah masak makanan buat aku, semacam hadiah kalau aku bisa bertahan belajar selama satu jam. Aku kangen itu…

***

Setelah bapak menceraikan ibu tiriku, aku menjadi nyaman di rumah. Belajar dan bermain tanpa perlu ketakutan akan terjadi aneh-aneh lagi. Mengejar nilai supaya bagus, karena dulu ketika ibu masih ada, aku selalu abai ketika diajak belajar bareng. Sekarang saatnya menebus hutang. Dan alhamdulillah aku tak masuk golongan terbawah lagi.

“Akhirnya Rizky bisa lulus Ibu… Bapak, Rizky sudah gede.” Teriakku ketika perpisahan sekolah sekaligus pengumuman kelulusan.

Ketika rencana daftar ke SMP bersama teman-temanku, mereka banyak memilih SMP 1 Ponorogo atau SMP favorit lainnya. Tapi aku lebih memilih melanjutkan sekolah di Pondok Pesantren Darul Huda.

“Lho le nilaimu cukup lo buat daftar di SMP 1, kenapa?” ketika Bapak membahasnya sepulang piket kerja.

“Rizky ingin hafal Qur’an Bapak, dan supaya Ibu masuk surga.”

Ini Baktiku, Bu

Oleh : Muchtar Prawira Sholikhin

Setiap siang biasanya aku dijemput bapak dari sekolah. Tapi berhubung ada kerjaan tambahan di kantor disuruhnya aku pulang sendiri. Aku sih tak masalah. Kesempatan emas untuk main petak umpet lebih lama dan jajan macam-macam. Kalau bapak sibuk biasanya aku dikasih uang saku lebih buat makan siang sekalian. Sehabis lelah bermain aku segera pulang, acara TV favoritku sudah waktunya mulai.

Sampai rumah kuambil air sambil nonton acara Bolang, tak ada lagi makan siang karena memang rumah ini kosong sejak pagi. Oya, aku punya handphone baru pemberian bapak sebagai ganti yang dulu rusak secara misterius.

“Nah nanti kalau Bapak sering lembur bisa pakai ini,” tegas beliau sambil memberikan alat canggih itu.

Waktu kukeluarkan dari lemari nampak di depanku jelas handphone-ku, tapi penuh sayatan pisau di sana-sini. Ini kedua kali rusak tanpa kutahu sebabnya. Aku takut, Bapak nanti marah.

***

“Pak, hape kulo rusak maleh Pak,” terangku selepas magrib.

“Ya Allah, kok iso rusak meneh le?”

Bapak sebenarnya sudah tahu perbuatan siapa ini. Seperti tingkah-tingkahnya dulu. Mulai dari pergi seenaknya, menelantarkan anak karena bukan anak kandung, juga bagai ratu meminta uang kepada bapak yang tak jelas digunakan untuk apa.

***

“Ibu, Rizky kangen ibu…”

Bu, Rizky capek bu belajar sendirian. Nonton TV sendirian. Dan sekarang harus ketakutan di rumah sendiri.

Ingat dulu ibu sering sangat sabar ketika aku terus-terusan nonton TV tanpa mau belajar, padahal esok ada ujian. Tapi ibu malah masak makanan buat aku, semacam hadiah kalau aku bisa bertahan belajar selama satu jam. Aku kangen itu…

***

Setelah bapak menceraikan ibu tiriku, aku menjadi nyaman di rumah. Belajar dan bermain tanpa perlu ketakutan akan terjadi aneh-aneh lagi. Mengejar nilai supaya bagus, karena dulu ketika ibu masih ada, aku selalu abai ketika diajak belajar bareng. Sekarang saatnya menebus hutang. Dan alhamdulillah aku tak masuk golongan terbawah lagi.

“Akhirnya Rizky bisa lulus Ibu… Bapak, Rizky sudah gede.” Teriakku ketika perpisahan sekolah sekaligus pengumuman kelulusan.

Ketika rencana daftar ke SMP bersama teman-temanku, mereka banyak memilih SMP 1 Ponorogo atau SMP favorit lainnya. Tapi aku lebih memilih melanjutkan sekolah di Pondok Pesantren Darul Huda.

“Lho le nilaimu cukup lo buat daftar di SMP 1, kenapa?” ketika Bapak membahasnya sepulang piket kerja.

“Rizky ingin hafal Qur’an Bapak, dan supaya Ibu masuk surga.”

Leave a Reply