12
- January
2014
Posted By : Brawijaya Mengajar
Pendidikan adalah untuk Sukses dalam Pendidikan

PENDIDIKAN ADALAH UNTUK SUKSES DALAM KEHIDUPAN

by: Salwa

Universitas Kanjuruhan Malang
(Pemenang 10 besar Pena Brawijaya)

 
Suatu hari, seorang anak yang masih duduk di Taman Kanak-kanak pulang kerumah sambil menangis di depan ibunya. Ia mengatakan, “Ma, aku ingin pindah ke planet lain”. Ini terjadi karena ia merasa tertekan di sekolah. Karena “dipaksa” harus lancar membaca dan berhitung, padahal sebenarnya ia masih ingin bermain dengan teman-temannya. Dilain tempat, Kita sering melihat, seorang siswa Sekolah Dasar masih harus mengikuti tambahan pelajaran atau kursus sepulang sekolah hingga pulang sore hari, dengan baju seragam yang basah berkeringat serta membawa tas besar di pundak yang tampak sangat berat. “beban” itu belum selesai, karena pada malam hari ia masih harus mengerjakan seabrek Pekerjaan Rumah untuk sekolah esok hari. Kenyataan inilah yang sering tampak di negeri kita.Sebagai seorang pendidik yang sedang melanjutkan study di Australia, mengamati kegiatan belajar-mengajar adalah sangat menarik. Tulisan ini adalah sebagai  informasi untuk berbagi pengalaman, juga sebagai perbandingan antara metode pendidikan yang ada di Australia dengan metode pendidikan yang ada di Indonesia (Edubenchmarking). Tanpa bermaksud memandang lebih baik pendidikan di Australia dibandingkan dengan di negara kita, karena semua ini ada plus dan minusnya. Penulis berharap tulisan ini bisa menjadi bahan informasi bagi penentu kebijakan bidang pendidikan di Indonesia, agar dapat mempertahankan sisi baik yang sudah ada pada sistem pendidikan di Indonesia dan mengambil metode-metode yang di nilai bagus pada sistem pendidikan di negara-negara lain.
Jelas dengan demikian akan menjadi sebuah cara terbaik dalam menentukanprogram pendidikan di waktu yang akan datang.Seperti juga di Indonesia, sekolah-sekolah di Australia di mulai dengan

pendidikan taman kanak-kanak, lalu di lanjutkan dengan 12 tahun sekolah dasar

dan menengah, dikenal dengan istilah year 1 sampai year 12. Perihal kurikulum,

di Australia juga menerapkan kerangka kerja kurikulum nasional sebagai

acuan standard akademik. Di hampir seluruh sekolah mempunyai sembilan

mata pelajaran inti yaitu Bahasa Inggris, Matematika, Pendidikan Sosial dan

lingkungan, Science, Seni, Bahasa asing (selain Bahasa Inggris), Pendidikan

kesehatan dan fisik, Tekhnologi, serta pengembangan kepribadian. Yang berbeda

dengan di Indonesia, pendidikan di negeri yang dikenal dengan produksi wool ini,

tidak ada pelajaran pendidikan kewarganegaraan dan pendidikan agama.

Saya melihat ada beberapa hal menarik yang berbeda dengan sistem pendidikan

dasar di Indonesia. Pertama, dilihat dari bobot dan tingkat kesulitan materi

pelajaran, standard pendidikan dasar di Indonesia jauh lebih tinggi. Jika di

Indonesia, siswa-siswa kelas dua SD sudah mendapatkan banyak pelajaran dan

berbagai pekerjaan rumah serta ulangan atau ujian, tetapi siswa-siswa setaraf kelas

1-2 SD di Australia belum di wajibkan untuk membaca. Bahkan di Indonesia,

siswa TK nol besar diwajibkan lancar membaca & berhitung, apalagi jika orang

tua mereka berniat mendaftarkan mereka ke Sekolah Dasar unggulan yang

mewajibkan mereka lolos ujian tulis sebagai syarat pendaftaran masuk. Sungguh

berbeda sekali dengan di negeri yang terkenal dengan binatang kangguru ini.

Pendidikan taman kanak-kanak disini seperti istana bermain dimana mereka bebas

bermain, mengembangkan kreatifitas dan bersosialisasi. Pendidikan dasar di

Australia lebih di tekankan sebagai fondasi untuk belajar mengenal diri sendiri,

lingkungan serta pengembangan sikap (character building). Mengajarkan hal-
hal sederhana secara praktis lebih ditekankan dibanding teori-teori di kelas.

Karena itu, tidak heran jika di Australia, sering terlihat siswa- siswa sekolah

dasar yang sedang belajar mengukur kepadatan mobil di jalan raya, atau di lain

waktu, mereka tengah melakukan kegiatan diluar kelas (excursion), seperti ke

pasar, perkebunan, peternakan kadang mereka belajar juga mengantri, melakukan

transaksi jual beli dan sebagainya. Sebuah pengajaran yang aplikatif serta bisa

langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kedua, dalam hal penilaian (assessment). Berbeda dengan di Indonesia yang

mewajibkan para siswa untuk menempuh ulangan-ulangan sebagai persyaratan

untuk naik kelas. Di Australia tidak ada siswa yang tidak naik kelas. Memang

ada ujian nasional seperti UAN di Indonesia, di Australia, tes standard nasional

dikenal dengan istilah NAPLAN (National Assessment Program Literacy and

Numeracy) yaitu tes nasional yang di lakukan serentak di Australia untuk menguji

kemampuan membaca, menulis dan berhitung sebagai persiapan memasuki Year

10 ( setara dengan kelas I SMU).

Walau standard materi pelajaran untuk pendidikan dasar di Indonesia tampak jauh

lebih tinggi dibandingkan Australia, namun ketika memasuki tingkat perguruan

tinggi, tampak Indonesia lebih tertinggal di banding negara benua ini, selain

disebabkan karena peralatan tehnologi yang lebih canggih dan lengkap, fasilitas-
fasilitas penelitian yang lebih memadai, juga faktor mahasiswa yang telah

memiliki pengembangan karakter (character building) yang kuat. Fondasi sikap

yang tertanam sejak dini di pendidikan dasar sangat mempengaruhi kesuksesan

masa depan mereka, seperti kemandirian, jujur, kreatif, inovatif serta berfikir

kritis (critical thinking).

Ketiga, adalah pemberian reward (penghargaan) terhadap usaha siswa sangat

dijunjung tinggi, baik dalam bentuk verbal maupun non verbal seperti ucapan

pujian “well done”, “excellent” (bagus sekali, luar biasa). Yang lebih menarik lagi

di sekolah dasar, setiap ada siswa yang berbuat baik atau melakukan usaha keras,

mempunyai keberanian yang positif, akan memperoleh reward berupa sertifikat-
sertifikat kecil (school awards) yang nanti jika telah terkumpul sepuluh sertifikat,

akan di umumkan di acara assembly yaitu acara yang diselenggarakan tiap dua

minggu sekali untuk pengembangan bakat seni para siswa. Di acara tersebut

masing-masing kelas menampilkan kreatifitas seperti menyanyi, menari, drama

dan sebagainya. Hal yang istimewa lagi, pada school awards juga di tulis hal-hal

baik yang telah di lakukan anak didik, seperti menolong teman yang jatuh, berani

berbicara di depan kelas, jujur, empati dan perilaku positif lainnya yang dilakukan

siswa. Disinilah terlihat betapa pengembangan karakter (character building) dan

kecerdasan emosi (emotional equivalent) sangat di tekankan dalam pendidikan

dasar. Penghargaan dan feedback yang positif ini juga tertulis di dalam raport

siswa. Jadi penilaian pada raport siswa di Australia adalah berbentuk narasi,

bukan dalam bentuk angka-angka seperti pada sekolah di Indonesia.

Keempat, suasana belajar sekolah-sekolah dasar di Australia terlihat sangat

kondusif. Dengan jumlah siswa dalam satu kelas yang tak lebih dari 20 siswa,

ditunjang dengan lengkapnya media, kumpulan portfolio, alat-alat peraga, juga

dinding-dinding kelas yang “ramai” ditempeli dan digantung berbagai macam

gambar, tulisan, hasil karya siswa maupun media buatan guru. Kebanyakan

dinding-dinding kelas sekolah di Australia dilapisi papan lunak (softboard),

sehingga dapat digunakan untuk menempel hasil karya siswa dan media belajar,

hal ini jarang terlihat di kelas sekolah di negeri kita yang terlihat “bersih” dan

tampaknya masih kurang media serta alat peraga yang dapat meningkatkan

motivasi belajar siswa. Jumlah siswa yang sedikit ini memungkinkan bentuk

formasi bangku yang di atur melingkar sehingga para siswa dapat belajar,

berdiskusi dalam kelompok juga bersosialisasi. Namun bisa kita pahami, hal ini

kurang bisa diterapkan di semua sekolah di Indonesia yang lebih banyak memiliki

kelas-kelas besar, karena jumlah penduduk yang jauh lebih banyak dibandingkan

Australia.

Kelima, dari segi tenaga pendidik, guru-guru di Australia amat disiplin. Para

guru diwajibkan datang ke kelas sebelum murid-murid masuk. Hal ini tampaknya

tengah di galakkan di Indonesia. Dengan adanya morning briefing bagi para guru

sebelum masuk ke kelas tentu sangat baik untuk meningkatkan kedisiplinan bagi

tenaga pengajar dan juga sebagai sarana mendiskusikan persoalan-persoalan

dalam proses belajar mengajar.

Namun tidaklah bijaksana jika kita hanya membandingkan metode pendidikan

di Indonesia dan Australia tanpa melihat faktor-faktor yang melatarbelakangi.

Misalnya jumlah penduduk di Indonesia yang puluhan kali lipat lebih banyak di

banding Australia, tentunya mempunyai dampak terhadap kebijakan-kebijakan

pendidikan seperti kebijakan kurikulum, formasi bangku, kebutuhan ruang

kelas dan sebagainya. Namun pada intinya, keberhasilan sebuah pendidikan

adalah bagaimana dapat menciptakan rasa nyaman, aman dan dapat memotivasi

siswa untuk berkreatifitas dan bukannya malah tertekan dan stress karena harus

“dipaksa” memenuhi target kurikulum dan standard-standard kelulusan yang

super tinggi.

Sungguh miris rasanya mendengar berita beberapa siswa yang nekad bunuh

diri karena tidak lulus UAN. Juga baru-baru ini para siswa yang lulus UAN

mengekspresikan euphoria dengan melakukan konvoi hingga membuat jalanan

macet. Mereka bersorak-sorai, saling mencoret-coret baju seragam, berteriak,

ada pula yang menangis bahagia, seakan lulus ujian UAN adalah telah lepas dari

masa-masa sulit, menegangkan dan tertekan. Kejadian-kejadian ini tidak pernah

terjadi di negara-negara maju.

Bukankah pendidikan di sekolah adalah sebagai proses agar anak didik berhasil

dalam masa depannya kelak? Bukankah sekolah bukan sebagai sarana agar lulus

dalam ujian-ujian yang akhirnya “mengeksekusi” siswa dengan angka-angka?

Justru keadaan seperti ini akan mengkerdilkan makna sekolah sebagai tempat

belajar agar sukses dalam kehidupan yang nyata.

Pada akhirnya, kita harus kembali pada kenyataan, bahwa secanggih apapun

tekhnologi yang digunakan, selengkap apapun media, alat peraga bahkan

laboratorium sebuah sekolah, jauh lebih penting adalah jiwa-jiwa yang hidup di

dalamnya. Ciptakan “ruang” agar kreatifitas para siswa tidak terpasung, bahwa

belajar tidak hanya terbatas diruang kelas berukuran sekian kali sekian meter saja,

tapi belajar bisa di mana saja, di pasar, di lapangan bola, di sawah atau di mana

saja, sejauh mereka dapat belajar dan mengembangkan ide-ide serta berkreasi.

Sehingga tidak hanya terpaku pada teori-teori pada text book saja.

Untuk mewujudkan keadaan seperti di atas, haruslah diawali dari paradigma

memaknai arti dari kecerdasan yang sesungguhnya. Kecerdasan bukan hanya

jika siswa bisa hafal di luar kepala apa yg mereka baca dalam buku-buku teks,

namun lebih dari itu, bisakah siswa menerapkan pengetahuan yang ia pahami

dalam aplikasi yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Paculah siswa agar

bisa menerapkannya, kejar kreatifitasnya, kembangkan logikanya, timbulkan

keberaniannya dalam mengemukakan hal-hal baru, hidupkan semangat empatinya

pada orang lain, doronglah siswa untuk bersosialisasi dan upayakan ia untuk

bersikap jujur. Agar setelah lulus nanti, mereka telah siap untuk mandiri,

memimpin dan hidup bermasyarakat secara positif. Sebagaimana kata John

Dewey seorang filosof pendidikan “Pendidikan bukan persiapan untuk hidup,

pendidikan adalah hidup itu sendiri”.

 

Leave a Reply